Every Day is A New Day

“You can become blind by seeing each day as a similar one. Each day is a different one, each day brings a miracle of its own. It's just a matter of paying attention to this miracle.”

Showing posts with label penggalan puisi. Show all posts
Showing posts with label penggalan puisi. Show all posts

Poems written by fighting wife & husband

Poems written by fighting wife & husband :

WIFE
I wrote your name on sand, it got washed
I wrote your name in air, it was blown away
Then i wrote your name on my heart and i got a heart attack

HUSBAND
God saw me hungry, He created pizza
He saw me thirsty, He created pepsi
He saw me in the dark, He created light
He saw me without problem, He created YOU

WIFE
Twinkle twinkle little star
You should know what you are
And once you know what you are
Mental hospital is not so far

HUSBAND
The rain makes all things beautiful
The grass and flowers too,
If rain makes all things beautiful
Why doesn't it rain on you?

WIFE
Roses are red, violets are blue
Monkey like you should be kept in zoo
Don't feel so angry, you'll find me there too
Not in cage but laughing at you

Source : Unknown

Penggalan Lainnya

Ini penggalan puisi dari buku trilogy klan otori

Juga yang lainnya, di desa nun jauh di sana,
Tiada ragu lagi akan memandang bulan ini,
Bulan yang tak pernah bertanya
siapa yang menguasai malam….
Hembusan angin yang tersembunyi
menyampaikan lantangnya,
Jeritan rusa jantan yang menggetarkan hati,
Dan di suatu tempat sebatang dahan
membiarkan sehelai daun gugur.

THE FULLING BLOCK (KINUTA) KARYA ZEAMI
Japanese No Dramas : Penguin Books
Penerjemah : Royall Tyler

Hasrat Untuk Berubah

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal

aku bermimpi ingin mengubah dunia.

Seiiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,

kudapati bahwa

dunia tidak kunjung berubah.

Maka cita – cita itu pun agak kupersempit,

lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku,

Namun tampaknya,

hasrat itupun tiada hasilnya.

Ketika usiaku semakin senja,

dengan semangatku yang masih tersisa,

kuputuskan untuk mengubah keluargaku,

Tetapi celakanya,

mereka pun tidak mau berubah !

Dan kini,

Sementara aku berbaring saat ajal menjelang,

tiba-tiba kusadari :

Andaikan yang pertama- tama kurubah adalah

diriku,

Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,

mungkin aku bisa mengubah

keluargaku,

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,

bisa jadi akupun mampu memperbaiki

negeriku ;

Kemudian siapa tahu,

aku bahkan bisa mengubah

dunia

- Terukir di sebuah makam di Westminster Abbey, Inggris, 1100 M. -

RENUNGAN INDAH – W.S. RENDRA

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"....

penggalan lain - di sini di tempat ini

bila ini bukan tempat bagi airmata
untuk dimengerti,
lantas dimana lagi aku harus menangis
bila ini bukan tempat bagi jiwaku
untuk mendapatkan sayap,
lantas kemana lagi aku terbang
bila ini bukan tempat aku
mencari jawaban atas pertanyaan
lantas kemana aku mencarinya
bila ini bukan tempat bagi perasaanku
untuk didengar
lantas kemana lagi aku berbicara
bila ini bukan tempat kau menerimaku
apa adanya
lantas kemana lagi aku harus
menjadi diriku
bila ini bukan tempat bagiku
untuk mencoba belajar dewasa lantas bisakah
aku hanya menjadi diriku sendiri?

penggalan puisi – siapakah engkau

siapakah kau yang mengubah benci
menjadi cinta buta tak terkendali?
siapakah kau yang di bumi
tapi aku mencarimu hingga ke langit?
apakah kau sengaja merangkum drama
kepedihan menjadi cerita cinta?
seorang penyairkah kau atau penyihir
yang telah memetikkan sebuah bintang
untukku, berabad yang lalu?
kau hidup di dalam diriku
berjalan, menyalakan parafin dan terlelap
kau tidak meninggalkanku
akulah yang tertinggal