Every Day is A New Day

“You can become blind by seeing each day as a similar one. Each day is a different one, each day brings a miracle of its own. It's just a matter of paying attention to this miracle.”

Flash Fiction Pertama - Kenangan

Tidak ada yang bisa dikatakan istimewa dari masa masa SMAku, semuanya kulalui secara biasa biasa saja, sama seperti kebanyakan remaja lainnya. Nilai akademisku lumayan atau mungkin sedikit di bawah rata rata haha. Kegiatan ekstra kulikulerku nihil, sempat ikut MPK lalu mundur secara teratur karena bosan atau malas?

Kisah asmara? Inipun biasa saja, sempat menjalin hubungan yang berawal dari ketidakjelasan dan berakhir pula dengan ketidakjelasan pula.

Tapi ada satu kisah yang kadang kala masih muncul ke permukaan, sama seperti hari ini, entah mengapa bayangan wajah dan kenangan akan dirinya melintas dibenak saat diriku sedang asyik asyiknya menikmati panas teriknya Jakarta di dalam kopaja yang pengap.

Aku selalu berpikir mengapa kisah ini selalu menjadi bagian dari perjalananku, dan jawabannya selalu berakhir pada satu kesimpulan, “unfinish business”.

Perkenalanku dengannya diawali dari kegiatan ekstra kulikuler Perisai Diri, saat itu latihan selalu dilakukan pada sore hari dan diakhiri saat menjelang magrib, saat itu aku baru kelas 1, satu hari saat latihan usai, seorang kawan menarikku ke suatu lorong di depan kelas yang ada di sekolahku dan ia ada di sana, ternyata ini acara perkenalan, wah senangnya ia yang mengajakku berkenalan terlebih dahulu, namanya ….., ia tak terlalu tinggi namun proposional, cantik dengan rambut yang tak terlalu panjang, bila kupikirkan kembali mengenai dirinya, aku bisa berkata bahwa sampai saat ini gambaran ideal seorang perempuan yang kusuka adalah seseorang yang seperti dia.

Hari hari lalu berjalan seperti biasanya, dirinya sempat terlupakan untuk kemudian diingatkan kembali oleh temanku yang kebetulan satu kelas dengannya.

Aku tak begitu ingat detail bagaimana cara kami menjadi dekat, hanya ada satu momen yang kuingat, saat ku berulang tahun, ia memberikan sebuah pulpen sebagai hadiah.

Itu adalah hadiah pertamaku dari seorang perempuan (di keluargaku, tak ada tradisi memberi hadiah ulang tahun, selain dari doa), pulpen itu selalu kujaga bahkan setelah hubungan kami renggang, namun entah bagaimana benda kenangan itu hilang saat kuberada di tahun pertama kuliahku. Tak sampai menangis, namun jelas sesal tak pernah pergi dari hati, tak mampu jaga dirinya jua tak mampu jaga kenangan atasnya.

Cara kami menjalani kisah kamipun tak berbeda dengan anak anak usia SMA kami saat itu (jelas jauh sepertinya bila dibandingkan dengan anak SMA saat ini – tentunya tidak semua), kami datang ke sekolah lebih pagi, sehingga kami memiliki kesempatan untuk saling menyapa dan sedikit mengobrol. Lalu saat pulang, kami selalu saling menunggu walau salah satu dari kami pulang lebih lambat karena satu atau lain hal.

Biasanya aku selalu berkumpul dengan teman teman sekelasku saat pulang sekolah sambil bermain bola, untuk kemudian pamit pulang terlebih dahulu saat dirinya muncul di ujung jalan, sedikit senyum sudah lebih dari cukup untuk memberiku isyarat bahwa sekarang adalah saat untuk kami meluangkan waktu bersama.

Sepertinya waktu berjalan dengan indah saat itu, hingga suatu ketika, saat itu adalah perayaan maulid nabi di sekolahku, semua siswa wajib hadir tak terkecuali diriku. Ada penceramah tamu yang hadir membawakan materi ceramah yang entah mengapa seakan akan isi ceramah itu ditujukan untuk dan hanya untukku.

Bukan berarti kami telah membicarakan masa depan kami sejauh itu, namun yang ada dipikiranku adalah bahwa sebuah proses adalah sebuah perjalanan menuju tujuan akhir, dan apa tujuan akhir dari sebuah hubungan laki laki dan perempuan, jelas pernikahan adalah perhentian terakhir.

Semenjak saat itu, diriku selalu bergelut dengan diriku sendiri, berusaha mencerna, mencari celah, memilah apa yang harus kulakukan. Tanpa kusadari diriku telah membuat sebuah keputusan, dari hari ke hari hubungan kami semakin renggang sampai akhirnya berakhir. Tak perlu kuberitahu mengapa ceramah itu mempengaruhi hubungan kami, kuyakin engkaupun mengerti.

Setelah semua itu kami jarang sekali bertemu, kudengar ia menjalin hubungan lain dengan seorang temanku, itulah kabar terakhir yang kudengar.

Beberapa tahun kemudian atau tepatnya lima tahun kemudian, kami bersua kembali di sebuah toko buku. Ia masih menarik bahkan lebih menarik dari yang bisa kuingat, basa basi biasa tak ada yang istimewa, kala itu ia sendirian sedang aku sedang bersama yang lain.

Lalu semua hilang, walau seperti kukatakan di atas, kadang kenangan itu datang menghampiri seperti pagi ini.

Segala macam andai andai dapat saja kulakukan saat semua telah berlalu namun jelas andai andai tak akan membuahkan kenyataan.

lalu apa lagi yang harus kucari
setelah semua tampak menjauh
ragu sudah diri tuk melangkah
bila memang jalan tak lagi terbentang
ada resah ada gundah ada asa yang terbengkalai
lalu semua berakhir sia sia
lalu buku itu pun tertutup tanpa sempat akhirnya tersematkan
jadi selama ini
untuk sebuah kenyataan pahit kita berjalan……………lelah sungguh lelah………….semua menjadi tak berarti

1 komentar:

April 30, 2010 at 5:05 PM raden felix said...

heheheee..."Unfinish business." Ceritanya mirip2 sama ceritaku, mas...Jadi keinget lagiii,, ;)

Post a Comment

do as you like but please do it with respect